JV Green Color JV Gray Color JV Red Color
Indonesian Afrikaans Arabic Chinese (Simplified) Dutch English

Teknik Budidaya Ubi Alabio

PDFPrintE-mail

Ubi Alabio adalah sebutan daerah Kalimantan Selatan untuk ubi kelapa atau ‘Yam’(Dioscorea alata L.). Ubi Alabio merupakan tanaman perdu merambat dengan panjang mencapai 3-10 m. Tanaman ini memerlukan tiang/turus agar dapat tumbuh ke atas dan daunnya dapat melakukan proses fotosintesa dengan baik. Bentuk ubinya beragam yaitu bulat, panjang dan ada yang bercabang. Meskipun jenis ubi Alabio cukup banyak, namun secara nyata dapat dibedakan dari warna daging ubinya yaitu ubi merah/ungu (violet) dan ubi putih. Ubi alabio Sampai saat ini masih dibudidayakan secara tradisional sehingga hasilnya masih tergolong rendah yaitu berkisar 12-28 ton/ha. Padahal bila dibudidayakan dengan menerapkan teknologi budidaya yang benar seperti, pemupukan, pengendalian  hama dan penyakit yang tepat, hasil ubi Alabio di lahan lebak dapat mencapai antara 40-50 ton/ha. Meskipun tanaman ini dapat tumbuh pada tanah miskin, namun tanggap terhadap pemupukan.
Sebagai bahan pangan komposisinya cukup baik, yaitu selain sebagai sumber karbohidrat juga mengandung pati, protein, serat dan gula.


Pembibitan.
Bibit yang digunakan adalah bibit yang diambil dari umbi yang tua dan sudah disimpan selama ± 6 (enam) bulan, tidak keriput dan bebas hama penyakit. Bibit ubi alabio dalam bentuk ubi semua bagian dapat dimanfaatkan untuk bibit, yaitu  pangkal, tengah dan ujung. Umbi yang telah disiapkan dicuci bersih, dan dipotong-potong sebesar korek api (± 3 x 5 cm). Potongan  umbi tersebut selanjutnya diletakkan langsung di atas tanah yang sebelumnya terlebih dahulu diberi alas dari abu sekam atau bisa juga memakai serbuk gergaji, atau dengan cara potongan umbi diperam di dalam kantong plastik selama ± 3 minggu.  Bibit siap ditanam di lahan jika telah muncul tunas baru.

Persiapan Lahan.

Dilakukan bulan April dan Mei, lahan dibersihkan dari gulma dengan menggunakan cangkul/sabit/herbisida , tanah diolah sampai masak/gembur dengan mengunakan tractor atau cangkul. Tanah dibikin guludan/galangan dengan lebar 1m, tinggi 40 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak antar bedengan 40 cm. Kemudian dilakukan pemasangan ajir dengan jarak 100 x 100 cm, Tinggi ajir yang digunakan sekitar 2 m – 2,5 m. Ajir ditanam kedalam tanah sedalam 50 cm, sehingga ketinggian diatas permukaan tanah antara 1,5 m – 2 m.

Varietas Lokal

Varietas-varietas lokal ubi Alabio yang dibudidayakan petani di Kalimantan Selatan, diantaranya adalah ubi Habang Harum, ubi Kesuma (Jaranang), Ubi Tongkat (Tiang), ubi Ketan (Tongkol), ub Nyiur, ubi Jawa, ubi Cina, ubi Putih, ubi Habang Carang. Varietas ubi Putih memiliki bentuk ubi yang panjang, warna daging puith dan rasa ubi setelah direbus lembut. Ubi Habang Harum memiliki ubi bulat, merah keunguan dengan rasa lembut agak berlendir dan beraroma khas. Ubi Habang Carang memiliki ubi panjang bercabang, merah keunguan dengan rasa lembut agak berlendir, air rebusan berwarna merah.


Penanaman.
Setiap ajir disiapkan bibit sebanyak 4-6 bibit, bibit ditanam dengan cara dibenamkan ke dalam tanah yang telah digemburkan dengan kedalaman ± 5 cm. Setelah bibit ditanam, bagian atas tanah tersebut ditutup dengan mulsa dari rumput/gulma hasil perbersihan lahan sebelumnya untuk mengurangi penguapan.

Pupuk

Pupuk yang digunakan adalah 90 kg N/ha, 60 kg P2O5/ha dan 60 kg K2O/ha., atau dengan 400 kg NPK Ponska dan 67 kg urea. Tanaman juga diberi 5 t pupuk organik/ha. Pemupukan pertama diberikan setengah dosis N dan seluruh dosis P dan K yang diberikan pada saat tanaman berumur tujuh hari atau saat tanaman mulai melilit dan sisa pupuk N diberikan pada saat tanaman berumur 42 hari. Pupuk diberikan dengan cara ditugal di sekitar tiang rambat. Pupuk organik diberikan pada lubang tanam  ± 1 minggu sebelum tanam.

Pemeliharaan.

Pengendalian gulma pada pertanaman dan pembumbunan dilakukan secara manual pada saat ubi berumur 21 dan 42 hari. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan pada awal pertumbuhan dengan menyemprotkan insektisida Sevin dan memberikan Furudan sesuai dosis anjuran (12 kg/ha). Penyemprotan dapat dilakukan kembali jika ada serangan hama atau penyakit lainnya.

Di habitatnya lahan rawa lebak, tanaman ubi alabio biasanya tanpa dilakukan penyiraman karena  tanahnya cukup lembab, namun dilahan kering, jika tidak turun hujan dan ada tanda-tanda kekeringan maka perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman sebaiknya dilakukan pada waktu pagi atau sore hari.


Panen.
Pemanenan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 4 – 7 bulan atau apabila daun sudah mulai rontok ditandai dengan daun dan batang yang mulai mengering. Panen dilakukan dengan membongkar tanah disekitar ubi dengan menggunakan cangkul. Pembongkaran tanah harus hati-hati agar tidak melukai ubi yang masih berada di dalam tanah. Selanjutnya ubi dapat diangkat kepermukaan tanah. Ubi Alabio segar tahan disimpan hingga 6 bulan

Prakiraan Pendapatan

Berdasarkan informasi petani, lahan seluas 1 borong (17 m x 17 m) dapat ditanami ubi sebanyak ± 300 tiang/turus. Jika panen dapat mengasilkan ubi 3 pikul (300 kg), dengan harga Rp.12.000,-/kg maka akan diperoleh penghasilan kotor sebesar Rp3.600.000,-/borong. [roen]

Disadur dari berbagai sumber.